Perusahaan logistik sering menghadapi risiko ketika biaya operasional mengikuti pergerakan kurs dolar AS. Biaya seperti ocean freight, air freight, port charges, dan pembayaran overseas agent bisa berubah nilainya saat dikonversi ke rupiah.
Jika tidak dikelola dengan rapi, perubahan kurs dapat memengaruhi quotation, invoice, cash flow, hingga margin shipment. Apalagi, aktivitas ekspor-impor Indonesia masih besar, dengan nilai ekspor Januari–April 2026 mencapai US$92,15 miliar menurut BPS.
Karena itu, perusahaan logistik perlu lebih cermat mengelola transaksi valas, terutama di tengah kebijakan DHE dan aturan valas yang semakin diperhatikan pemerintah.
Mengapa Kebijakan Valas Perlu Diperhatikan Perusahaan Logistik?
Kebijakan valas berkaitan dengan pengaturan transaksi mata uang asing dalam kegiatan ekonomi, termasuk ekspor dan impor. Salah satu kebijakan yang perlu diperhatikan adalah aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam atau DHE SDA.
Mulai 1 Juni 2026, eksportir sektor nonmigas wajib menempatkan 100% DHE SDA pada rekening khusus di dalam negeri selama minimal 12 bulan. Sementara itu, eksportir sektor migas wajib menempatkan sedikitnya 30% DHE SDA selama paling singkat tiga bulan.
Walaupun aturan ini secara langsung menyasar eksportir, perusahaan logistik tetap perlu memahami dampaknya. Freight forwarder sering menjadi pihak yang membantu proses pengiriman, dokumen ekspor, koordinasi pembayaran, hingga komunikasi dengan pelanggan dan mitra luar negeri.
Hubungan Valas dengan Operasional Freight Forwarder
Dalam operasional freight forwarding, banyak transaksi yang berhubungan dengan mata uang asing. Contohnya pembayaran kepada shipping line, airline, overseas agent, warehouse luar negeri, asuransi, dan biaya pelabuhan tertentu.
Di sisi lain, pelanggan di Indonesia bisa saja membayar dalam rupiah. Kondisi ini membuat perusahaan logistik perlu menghitung selisih antara biaya yang dikeluarkan dalam valas dan pendapatan yang diterima dalam rupiah.
Sebagai contoh, ketika kurs dolar AS berada di level tinggi, biaya freight dalam dolar akan terasa lebih mahal saat dikonversi ke rupiah. Jika perusahaan tidak memperhitungkan kurs sejak tahap quotation, margin shipment bisa ikut tertekan.
Dampak Kebijakan Valas terhadap Perusahaan Logistik
Dampak pertama adalah tekanan pada cash flow. Perusahaan logistik perlu memastikan dana tersedia untuk membayar biaya internasional, sementara pembayaran dari pelanggan bisa saja masuk belakangan. Jika selisih waktu antara pembayaran vendor dan pembayaran pelanggan terlalu jauh, risiko keuangan akan semakin besar.
Dampak kedua adalah risiko selisih kurs. Biaya yang dihitung saat quotation bisa berbeda dengan biaya aktual saat pembayaran dilakukan. Perubahan kurs ini dapat membuat profit dari satu shipment menurun, bahkan berpotensi menjadi rugi jika tidak dikontrol sejak awal.
Dampak ketiga adalah meningkatnya kompleksitas invoice dan rekonsiliasi. Tim finance harus mencocokkan data shipment, invoice, pembayaran, kurs, dan biaya tambahan dari berbagai pihak. Jika data tidak tersentralisasi, proses pengecekan bisa memakan waktu lebih lama.
Dampak keempat adalah kebutuhan laporan yang lebih akurat. Dalam industri logistik, margin perlu dipantau per shipment. Perusahaan harus tahu pengiriman mana yang menguntungkan, mana yang terkena selisih kurs, dan mana yang membutuhkan evaluasi biaya.
Risiko Jika Pengelolaan Masih Manual
Perusahaan logistik yang masih menggunakan spreadsheet, email, dan pencatatan manual akan lebih rentan menghadapi risiko valas. Data quotation bisa berbeda dengan invoice, kurs yang digunakan tidak konsisten, atau biaya tambahan dari overseas agent terlambat dicatat.
Kondisi ini dapat menyebabkan tim operasional dan finance tidak memiliki data yang sama. Tim operasional mungkin sudah menutup shipment, tetapi tim finance masih menemukan biaya yang belum masuk perhitungan. Akibatnya, laporan profit menjadi kurang akurat.
Di sisi lain, biaya logistik Indonesia masih cukup besar. Kemenko Perekonomian mencatat biaya logistik Indonesia berada di level 14,29% terhadap PDB. Artinya, efisiensi operasional masih menjadi isu penting, termasuk dalam pengelolaan biaya valas dan transaksi internasional.
Cara Mengelola Risiko Valas dalam Bisnis Logistik
Langkah pertama adalah mencatat semua transaksi berdasarkan mata uangnya. Perusahaan perlu membedakan biaya dalam rupiah, dolar AS, atau mata uang asing lain agar perhitungan profit lebih jelas.
Langkah kedua adalah menetapkan acuan kurs yang konsisten. Misalnya menggunakan kurs tengah BI, kurs bank, kurs pajak, atau kurs internal perusahaan. Dengan acuan yang jelas, tim operasional dan finance dapat menggunakan dasar perhitungan yang sama.
Langkah ketiga adalah memantau outstanding payment. Tagihan yang belum dibayar dalam mata uang asing perlu dipantau secara berkala karena nilainya bisa berubah mengikuti kurs.
Langkah keempat adalah memisahkan biaya lokal dan biaya internasional. Biaya seperti trucking domestik dan handling lokal sebaiknya dicatat terpisah dari biaya seperti ocean freight, air freight, dan overseas charges.
Langkah kelima adalah membuat laporan profit per shipment. Laporan ini membantu perusahaan mengetahui margin aktual dari setiap pengiriman, termasuk dampak selisih kurs terhadap profit.
Peran Software Freight Forwarder dalam Mengelola Risiko Valas
Software freight forwarder dapat membantu perusahaan logistik mengelola transaksi valas dengan lebih rapi. Dalam satu sistem, perusahaan dapat mencatat shipment, quotation, invoice, biaya operasional, kurs, pembayaran, dan laporan profit.
Dengan sistem digital, tim operasional dan finance dapat bekerja menggunakan data yang sama. Setiap perubahan biaya, status pembayaran, atau update shipment bisa tercatat lebih jelas dan mudah dilacak.
Software juga membantu perusahaan memantau outstanding payment, biaya multi-currency, serta profit per shipment. Hal ini penting agar perusahaan tidak hanya fokus pada volume pengiriman, tetapi juga pada profitabilitas setiap transaksi.
Di tengah kebijakan valas dan aturan DHE yang semakin ketat, perusahaan logistik perlu memiliki sistem yang mampu mendukung pengelolaan data secara lebih akurat. Penggunaan software freight forwarder dapat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko selisih kurs, mempercepat rekonsiliasi, dan menjaga margin bisnis.
Kesimpulan
Kebijakan valas memiliki dampak penting bagi perusahaan logistik, khususnya freight forwarder yang menangani pengiriman ekspor-impor. Besarnya nilai perdagangan internasional Indonesia membuat transaksi dalam mata uang asing menjadi bagian yang tidak bisa dihindari.
Perusahaan logistik perlu memahami risiko yang muncul, mulai dari cash flow, selisih kurs, invoice, outstanding payment, hingga laporan profit per shipment. Jika masih dikelola secara manual, risiko kesalahan pencatatan dan kerugian margin akan semakin besar.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Oaktree hadir sebagai software freight forwarder yang membantu mengelola transaksi valas, shipment, invoice, pembayaran, dan laporan profit dalam satu sistem. Dengan pengelolaan yang lebih digital, perusahaan logistik dapat bekerja lebih efisien dan lebih siap menghadapi perubahan kebijakan valas.







