Deprecated: Using null as an array offset is deprecated, use an empty string instead in /var/www/vhosts/oaktree.id/blog.oaktree.id.oaktree.id/wp-includes/functions.php on line 1194
Freight Forwarding Archives - Oaktree Blog

Freight Forwarding

Cara Menghitung Air Freight Rates Dan Komponen Biayanya

Cara Menghitung Air Freight Rates dan Komponen Biayanya

Jawaban Singkat Air freight rates per kilogram belum tentu mencakup seluruh biaya pengiriman. Dasar chargeable weight ditentukan dengan membandingkan berat aktual dan volumetrik, mengikuti ketentuan layanan. Biaya tambahan dapat mencakup surcharge, handling, dokumentasi, pickup-delivery, dan penyimpanan. Periksa cakupan quotation agar biaya tidak terlewat atau dihitung dua kali. Oaktree membantu mengelola penawaran, Air Waybill, dan laporan operasional air freight. Menghitung biaya pengiriman udara tidak cukup hanya dengan mengalikan berat barang dan tarif per kilogram. Dalam praktiknya, air freight rates perlu dihitung berdasarkan berat yang ditagihkan, ketentuan tarif, serta layanan yang digunakan. Itulah sebabnya barang yang ringan belum tentu memiliki biaya pengiriman rendah. Kemasan berukuran besar dapat menghasilkan berat volumetrik yang lebih tinggi daripada hasil penimbangan. Selain itu, penawaran dapat mencakup biaya tambahan yang berbeda antara satu layanan dan layanan lainnya. Agar estimasi lebih akurat, berikut cara menghitung air freight rates beserta komponen biaya yang perlu diperiksa. Apa Itu Air Freight Rates dan Apa yang Memengaruhinya? Air freight rates adalah tarif pengangkutan kargo melalui udara. Menurut International Air Transport Association atau IATA, rate merupakan tarif yang dikenakan pengangkut berdasarkan satuan berat tertentu, seperti kilogram atau pound. Tarif transportasi antarabandara perlu dibedakan dari biaya layanan tambahan dalam keseluruhan pengiriman. Dengan demikian, penawaran Rp40.000 per kilogram, misalnya, belum tentu merupakan harga pengiriman sampai alamat penerima. Pengirim perlu memastikan apakah tarif hanya mencakup angkutan udara atau juga meliputi penjemputan, penanganan, dan pengantaran. Tarif juga tidak selalu sama untuk setiap shipment. IATA menjelaskan adanya tarif pasar, tarif kontrak, serta tarif spot atau ad hoc yang dinegosiasikan untuk pengiriman tertentu berdasarkan kapasitas yang tersedia. Saat meminta penawaran, siapkan informasi mengenai bandara asal dan tujuan, jenis barang, jumlah kemasan, berat, dimensi, serta kebutuhan jadwal. Untuk kargo yang memerlukan penanganan khusus, kebutuhan tersebut perlu disampaikan sejak awal. Periksa pula cakupan layanan dan masa berlaku quotation. Penawaran airport-to-airport tidak dapat langsung dibandingkan dengan door-to-door tanpa melihat rincian pekerjaan yang termasuk di dalamnya. Cara Menentukan Chargeable Weight Sebelum menghitung biaya angkut, pengirim perlu memahami chargeable weight, yaitu berat yang menjadi dasar penagihan sesuai ketentuan layanan. Pada perhitungan dasarnya, berat aktual dibandingkan dengan berat volumetrik. DHL Global Forwarding menjelaskan bahwa angka yang lebih besar digunakan sebagai dasar chargeable weight. Berat Aktual atau Gross Weight Berat aktual merupakan hasil penimbangan keseluruhan kiriman. Menurut DHL Global Forwarding, berat ini mencakup barang, kemasan, dan palet yang digunakan. Karena itu, berat produk tanpa kemasan belum cukup untuk menghitung estimasi pengiriman. Sebagai contoh, apabila produk memiliki berat 50 kg dan seluruh kemasannya 10 kg, berat aktual kiriman menjadi 60 kg. Berat Volumetrik Berat volumetrik merupakan konversi ruang yang digunakan barang menjadi satuan berat. Perhitungan ini penting karena pesawat memiliki keterbatasan kapasitas berat sekaligus ruang. Dalam contoh perhitungan air freight, DHL Global Forwarding menggunakan rumus berikut: Berat volumetrik (kg) = panjang × lebar × tinggi (cm) ÷ 6.000 Untuk beberapa kemasan dengan ukuran sama, hasil per kemasan dikalikan jumlah kemasan. Jika dimensinya berbeda, volume setiap kemasan perlu dihitung secara terpisah. Faktor pembagi yang berlaku tetap harus dikonfirmasi kepada penyedia layanan. Gunakan dimensi luar kemasan akhir, termasuk palet apabila digunakan. Jangan menghitung berdasarkan ukuran produk saja karena ruang yang dibutuhkan saat pengangkutan dapat lebih besar. Menetapkan Berat yang Ditagihkan Setelah kedua berat diketahui, bandingkan hasilnya. Jika berat aktual 60 kg dan berat volumetrik 80 kg, dasar chargeable weight adalah 80 kg. Namun, perhitungan akhir tetap perlu mengikuti aturan penyedia layanan, termasuk pembulatan berat, minimum charge, dan ketentuan tarif yang berlaku. Dengan demikian, hasil kalkulasi awal sebaiknya dikonfirmasi melalui quotation. Contoh Menghitung Air Freight Rates Dalam handbook program kargonya, IATA menjelaskan bahwa weight charge dihitung dengan mengalikan tarif yang berlaku dan chargeable weight. Untuk memahami penerapannya, perhatikan simulasi berikut. Data pengiriman Nilai ilustrasi Jumlah kemasan 4 karton Ukuran luar setiap karton 60 × 50 × 40 cm Berat aktual seluruh karton 60 kg Faktor pembagi volumetrik 6.000 Tarif angkut Rp40.000/kg Langkah pertama, hitung berat volumetrik per karton. 60 × 50 × 40 ÷ 6.000 = 20 kg Langkah kedua, hitung total berat volumetrik. 20 kg × 4 karton = 80 kg Langkah ketiga, bandingkan dengan berat aktual. Berat aktual kiriman adalah 60 kg, sedangkan berat volumetriknya 80 kg. Karena berat volumetrik lebih besar, dasar chargeable weight menjadi 80 kg. Langkah keempat, hitung biaya angkut dasar. 80 kg × Rp40.000 = Rp3.200.000 Seluruh angka tersebut merupakan ilustrasi, bukan tarif pasar atau penawaran rute tertentu. Perhitungan juga mengasumsikan tidak ada penyesuaian minimum charge maupun ketentuan tarif lain. Biaya Rp3.200.000 tersebut baru mencerminkan biaya angkut dasar. Untuk mendapatkan estimasi total, pengirim masih perlu memeriksa komponen tambahan yang berlaku. Komponen Biaya di Luar Tarif Angkut Dasar IATA menjelaskan bahwa pengiriman kargo udara dapat melibatkan biaya tambahan, seperti pickup dan delivery, penyimpanan, asuransi, pengurusan kepabeanan, serta bea dan pajak. Artinya, biaya angkut antarabandara tidak otomatis mencakup seluruh kebutuhan pengiriman. Berikut komponen yang perlu ditanyakan saat memeriksa quotation. Komponen biaya Hal yang perlu diperiksa Fuel surcharge Apakah biaya terkait bahan bakar sudah termasuk tarif atau ditagihkan terpisah? Security atau screening charge Apakah terdapat biaya pengamanan atau pemeriksaan kargo? Terminal dan handling Penanganan apa saja yang tercakup di bandara asal dan tujuan? Dokumentasi atau AWB Apakah biaya administrasi dan dokumen ditagihkan secara terpisah? Pickup dan delivery Apakah penjemputan dan pengantaran darat termasuk layanan? Customs clearance Apakah jasa pengurusan kepabeanan sudah termasuk? Penyimpanan Kapan biaya penyimpanan mulai berlaku dan bagaimana dasar perhitungannya? Penanganan khusus Apakah karakteristik barang memerlukan layanan tambahan? Asuransi Apakah perlindungan dipilih, berapa preminya, dan apa cakupannya? Bea dan pajak Kewajiban apa yang berlaku dan siapa yang membayarnya? Sebagai contoh penerapan surcharge, DHL Global Forwarding memublikasikan kebijakan fuel dan security surcharge pada layanan di wilayah tertentu. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa biaya tambahan perlu diperiksa berdasarkan layanan dan lokasi, bukan diasumsikan seragam untuk semua pengiriman. Perlu diperhatikan pula bahwa jasa customs clearance berbeda dari bea dan pajak. Biaya jasa pengurusan tidak otomatis berarti seluruh kewajiban kepada negara sudah dibayarkan. Cara membaca quotation yang lebih jelas adalah membaginya menjadi biaya yang sudah termasuk, belum termasuk, dan hanya muncul pada kondisi tertentu. Jika tarif disebut all-in, mintalah penjelasan cakupannya agar komponen yang sama tidak dihitung dua kali. Untuk

Cara Menghitung Air Freight Rates dan Komponen Biayanya Read More »

Syarat Dan Ketentuan Pengiriman Live Animal Melalui Air Freight

Syarat dan Ketentuan Pengiriman Live Animal melalui Air Freight

Jawaban Singkat Persyaratan pengiriman live animal berbeda menurut jenis hewan, rute, negara tujuan, dan maskapai. Dokumen pengangkutan, kesehatan, serta karantina perlu disiapkan sebelum keberangkatan. Kontainer, label, dan instruksi perawatan harus sesuai kebutuhan hewan serta ketentuan pengiriman. Oaktree membantu mengelola transaksi, Air Waybill, jadwal, dan laporan biaya operasional air freight. Pengiriman hewan hidup melalui air freight membutuhkan persiapan khusus. Selain menentukan jadwal penerbangan, pengirim perlu memastikan kondisi hewan, kelengkapan dokumen, serta kesesuaian kontainer dengan persyaratan maskapai dan otoritas terkait. Hewan hidup memiliki kebutuhan penanganan yang berbeda dari kargo pada umumnya. Ventilasi, pemberian makan dan minum, hingga penanganan selama transit perlu diperhatikan agar kesejahteraan hewan tetap terjaga sepanjang perjalanan. Bagi perusahaan freight forwarder, pengiriman ini juga membutuhkan koordinasi antara pengirim, maskapai, petugas karantina, dan penerima. Berikut syarat serta ketentuan yang perlu dipahami sebelum mengatur pengiriman live animal melalui udara. Apa Itu Pengiriman Live Animal melalui Air Freight? Pengiriman live animal melalui air freight adalah pengangkutan hewan hidup menggunakan layanan kargo udara. Pengiriman dapat mencakup hewan peliharaan, ternak, maupun jenis hewan lain yang diizinkan oleh otoritas dan diterima oleh maskapai. Dalam pelaksanaannya, salah satu acuan utama adalah IATA Live Animals Regulations (LAR). International Air Transport Association menjelaskan bahwa LAR merupakan standar pengangkutan hewan hidup melalui maskapai komersial, dengan cakupan persyaratan dokumen, kontainer, pelabelan, dan penanganan. Namun, penerapan standar tersebut tetap perlu disesuaikan dengan ketentuan negara asal, negara tujuan, negara transit, serta kebijakan maskapai. Artinya, persyaratan untuk satu jenis hewan dan rute belum tentu sama dengan pengiriman lainnya. Pengiriman sebagai kargo juga perlu dibedakan dari hewan yang dibawa sebagai bagasi penumpang. Untuk pembahasan ini, fokusnya adalah pengiriman melalui layanan kargo yang memerlukan pengaturan operasional dan dokumen pengangkutan tersendiri. Syarat Hewan dan Dokumen yang Harus Dipersiapkan Sebelum melakukan booking, pengirim perlu memastikan bahwa hewan dapat diterima pada layanan dan rute yang dipilih. Dokumen kesehatan saja belum cukup apabila maskapai tidak melayani jenis hewan tersebut. Kondisi Hewan dan Persetujuan Maskapai IATA menjelaskan bahwa maskapai perlu memeriksa kondisi kesehatan hewan yang tampak, kelengkapan dokumen, kesesuaian kontainer, serta pengaturan reservasi dan rute sebelum menerima pengiriman. Konfirmasi kepada maskapai menjadi langkah penting karena tidak semua spesies dapat diangkut. Sebagai contoh, Garuda Indonesia Cargo menyebut lumba-lumba dan hiu sebagai jenis hewan yang tidak diterima dalam layanannya. Ketentuan ini perlu dipahami sebagai kebijakan operator tersebut, bukan larangan universal untuk seluruh maskapai. Dokumen Pengiriman Domestik Untuk pengiriman hewan antararea di Indonesia, Badan Karantina Indonesia menjelaskan bahwa pengirim atau kuasanya perlu mengajukan permohonan melalui PTK Online, menyerahkan dokumen yang dipersyaratkan, serta melaporkan dan menyerahkan hewan kepada pejabat karantina di tempat pengeluaran. Dokumen tersebut antara lain sertifikat veteriner dari otoritas daerah asal dan dokumen tambahan sesuai jenis hewan. Setelah tindakan karantina dilakukan dan persyaratan terpenuhi, petugas menerbitkan Sertifikat Kesehatan Hewan. Persyaratan tambahan terkait vaksinasi dan pengujian juga perlu diperiksa, terutama untuk hewan pembawa rabies. Selain dokumen kesehatan dan karantina, pengirim perlu menyiapkan dokumen pengangkutan. Garuda Cargo mencantumkan Air Waybill, Shipper’s Certification for Live Animal, serta dokumen CITES apabila diperlukan dalam persyaratan layanan Pet & Animals. Dokumen Tambahan untuk Pengiriman Internasional Pengiriman internasional membutuhkan pemeriksaan persyaratan negara tujuan dan transit. Dokumen yang relevan dapat mencakup sertifikat kesehatan veteriner, izin ekspor atau impor, serta izin CITES untuk spesies yang termasuk dalam pengaturannya. Kebutuhan karantina di tujuan juga perlu dipastikan sebelum keberangkatan. Karena persyaratan dapat berbeda, pengirim sebaiknya memverifikasi masa berlaku dokumen, kebutuhan pengujian, dan jadwal penerbitannya untuk setiap shipment. Langkah ini membantu menghindari dokumen yang belum tersedia atau sudah tidak berlaku ketika hewan diserahkan. Ketentuan Kontainer, Label, dan Perawatan Hewan Kontainer merupakan bagian penting dalam pengiriman live animal. Pemilihannya perlu mengikuti kebutuhan spesies dan persyaratan pengangkutan, bukan sekadar menyesuaikan kandang yang tersedia. Menurut IATA, konstruksi, ukuran, ventilasi, dan pengamanan kontainer memengaruhi keselamatan serta kesejahteraan hewan. Jenis hewan tertentu juga membutuhkan konstruksi khusus, sehingga satu desain kontainer tidak dapat digunakan untuk seluruh pengiriman. Dalam Live Animal Acceptance Checklist, IATA mencantumkan pemeriksaan terhadap beberapa aspek berikut: Kesesuaian kontainer dengan persyaratan spesifik hewan. Kebersihan, pencegahan kebocoran, dan pengamanan agar hewan tidak lepas. Ketersediaan bahan penyerap yang sesuai. Fasilitas makan dan minum apabila diperlukan. Label “Live Animals” dan “This Way Up” sesuai ketentuan. Identitas penerima serta nomor kontak yang dapat dihubungi selama 24 jam. Pengaturan perawatan juga perlu disepakati sebelum pengiriman. Apabila hewan membutuhkan makan atau minum selama perjalanan, pengirim perlu berkoordinasi dengan operator serta menyediakan instruksi dan persediaan yang diperlukan. Pakan maupun alas kontainer juga harus memenuhi ketentuan negara transit atau tujuan. Sementara itu, obat penenang bukan persiapan rutin untuk perjalanan udara. IATA tidak menganjurkan penggunaannya karena potensi dampak yang merugikan selama transportasi. Jika diperlukan karena alasan medis, pemberiannya harus berada di bawah arahan dokter hewan dan didokumentasikan sesuai ketentuan. Prosedur Pengiriman Live Animal dari Booking hingga Serah Terima Setelah persyaratan dipahami, perusahaan freight forwarder perlu menyusun alur kerja yang jelas. Secara umum, prosesnya dapat dimulai dari identifikasi jenis dan jumlah hewan, rute, ukuran kontainer, serta kebutuhan penanganannya. Berikutnya, tim mengonfirmasi penerimaan kepada maskapai dan mengatur booking. Pada tahap ini, jadwal pengiriman perlu diselaraskan dengan kesiapan dokumen, proses karantina, serta penerimaan di tujuan. Sebelum keberangkatan, hewan dan dokumen diserahkan untuk pemeriksaan sesuai prosedur yang berlaku. Sebagai contoh, alur Garuda Cargo mencakup booking, pemeriksaan kargo dan dokumen, serta pemeriksaan menggunakan Live Animal Acceptance Checklist. Pengiriman yang belum memenuhi checklist dapat ditolak dan dikembalikan untuk dilengkapi atau diperbaiki. Karena itu, pengecekan internal sebelum penyerahan kargo menjadi penting. Tim perlu memastikan informasi pada dokumen konsisten, kontainer sesuai, dan instruksi penanganan tersedia. Koordinasi juga berlanjut hingga tujuan. Penerima perlu mengetahui perkiraan kedatangan dan mempersiapkan proses pengambilan serta pemeriksaan yang berlaku. Jika terjadi perubahan jadwal, informasi tersebut perlu segera diteruskan kepada pihak yang bertanggung jawab atas penanganan hewan. Kelola Operasional Pengiriman Air Freight dengan Oaktree Pengiriman live animal memperlihatkan pentingnya pengelolaan operasional yang tertata. Tim freight forwarder harus menghubungkan informasi penawaran, transaksi, Air Waybill, jadwal, dan biaya agar setiap pengiriman dapat ditangani secara konsisten. Untuk membantu pekerjaan tersebut, perusahaan dapat menggunakan Oaktree sebagai software freight forwarder. Pada solusi air freight, Oaktree menyediakan dukungan pembuatan transaksi dari penawaran digital, pembuatan Air Waybill, serta pelaporan per proyek untuk memantau jadwal dan biaya. Dukungan sistem tersebut

Syarat dan Ketentuan Pengiriman Live Animal melalui Air Freight Read More »

Scroll to Top