Perang dagang antara Amerika Serikat dan China telah menjadi salah satu konflik ekonomi yang paling berpengaruh dalam dekade terakhir. Dimulai dari kebijakan tarif dan tuduhan praktik perdagangan yang tidak adil, ketegangan ini berkembang menjadi persaingan besar yang melibatkan teknologi, geopolitik, dan dominasi ekonomi global. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kedua negara, tetapi juga mengguncang rantai pasok internasional, mempengaruhi stabilitas pasar, hingga membuka peluang sekaligus risiko baru bagi negara-negara lain.
Di tengah, dinamika yang semakin kompleks, pertanyaan penting pun muncul seperti apa penyebab utama dari konflik ini, bagaimana dampaknya terhadap ekonomi dunia, dan siapa yang justru mendapatkan keuntungan dari ketegangan yang terus berlanjut ini? Artikel ini akan membahas semuanya secara mendalam dan komprehensif
Latar Belakang Perang Dagang Amerika dan China
Perang dagang antara Amerika Serikat dan China tidak terjadi secara tiba-tiba; konflik ini berakar dari ketegangan ekonomi yang telah berkembang selama bertahun-tahun. Sejak China menjadi anggota WTO pada tahun 2001, negara tersebut mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat, menjadikannya pusat manufaktur global dan salah satu eksportir terbesar di dunia. Kesuksesan ini membuat neraca perdagangan Amerika semakin timpang, dengan defisit yang terus membesar karena AS mengimpor jauh lebih banyak barang dari China daripada sebaliknya.
Ketegangan mulai meningkat ketika Washington menuduh Beijing melakukan praktik perdagangan tidak adil, seperti memberikan subsidi besar kepada industri lokal, memanipulasi nilai mata uang, dan kurang melindungi hak kekayaan intelektual perusahaan asing. Di sisi lain, China melihat kebijakan Amerika sebagai upaya untuk menahan kebangkitan ekonominya dan mempertahankan dominasi AS dalam perekonomian global.
Kondisi tersebut memuncak pada 2018, ketika Amerika Serikat mulai menerapkan tarif besar-besaran pada barang impor China, yang kemudian dibalas dengan kebijakan serupa oleh Beijing. Sejak saat itu, perang dagang berkembang menjadi persaingan struktural yang lebih luas, menyentuh sektor teknologi, keamanan nasional, dan geopolitik.
Penyebab Utama Terjadinya Perang Dagang
Perang dagang antara Amerika Serikat dan China dipicu oleh kombinasi faktor ekonomi, teknologi, hingga geopolitik. Konflik ini bukan hanya tentang tarif, tetapi tentang perebutan posisi sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Berikut penyebab utamanya:
1. Ketidakseimbangan Perdagangan (Trade Imbalance)
Salah satu pemicu terbesar adalah defisit perdagangan Amerika Serikat terhadap China yang terus membesar selama bertahun-tahun. AS menilai China terlalu mengandalkan ekspor murah ke pasar Amerika tanpa memberikan akses pasar yang setara bagi produk AS. Ketimpangan ini dianggap merugikan industri domestik AS dan mendorong pemerintahnya mengambil langkah proteksionis melalui tarif tambahan.
2. Tuduhan Praktik Dagang Tidak Adil
AS menuduh China melakukan berbagai praktik yang dianggap merugikan kompetisi global, seperti subsidi besar-besaran untuk perusahaan lokal, manipulasi nilai mata uang, hingga hambatan masuknya perusahaan asing. Praktik-praktik ini dinilai membuat produk China jauh lebih murah dan kompetitif secara tidak wajar di pasar internasional.
3. Persaingan Teknologi dan Inovasi
Selain faktor ekonomi, perang dagang juga dipicu oleh perlombaan dominasi teknologi. AS khawatir terhadap pesatnya perkembangan teknologi China—terutama di sektor kecerdasan buatan, 5G, dan manufaktur canggih—yang berpotensi menggeser posisi AS sebagai pemimpin inovasi global. Kebijakan seperti pembatasan teknologi tinggi dan pelarangan ekspor komponen sensitif pun menjadi bagian dari strategi AS.
4. Isu Hak Kekayaan Intelektual
AS menuduh China melakukan pencurian teknologi dan memaksa perusahaan asing untuk melakukan transfer teknologi jika ingin beroperasi di China. Hal ini menjadi salah satu keluhan paling keras dalam hubungan ekonomi kedua negara dan menjadi alasan utama di balik pengenaan tarif dan pembatasan bisnis.
5. Motif Geopolitik dan Perebutan Pengaruh Global
Di balik isu ekonomi, terdapat juga persaingan geopolitik yang lebih luas. AS ingin mempertahankan posisinya sebagai kekuatan ekonomi utama dunia, sementara China terus memperluas pengaruhnya melalui inisiatif seperti Belt and Road. Persaingan kepentingan strategis ini turut memperkeruh hubungan dagang dan mempercepat eskalasi konflik.
Strategi dan Kebijakan dari Kedua Negara
Konflik antara Amerika Serikat dan China dalam perang dagang tidak hanya sebatas saling menaikkan tarif. Kedua negara menerapkan berbagai strategi ekonomi, diplomasi, hingga kebijakan teknologi untuk memperkuat posisi masing-masing. Pendekatan mereka mencerminkan perbedaan ideologi ekonomi sekaligus ambisi dalam persaingan global.
Strategi dan Kebijakan Amerika Serikat
1. Penerapan Tarif Impor dalam Skala Besar
AS memberlakukan tarif tambahan terhadap ratusan miliar dolar produk China. Tujuannya adalah menekan ekspor China, mengurangi defisit perdagangan, dan memaksa China mengubah kebijakan industrinya. Ini menjadi salah satu instrumen utama AS dalam meningkatkan daya tawar.
2. Pembatasan Akses Teknologi untuk Perusahaan China
AS membatasi perusahaan-perusahaan besar seperti Huawei dan ZTE untuk mengakses teknologi penting—termasuk chip, perangkat lunak, dan peralatan jaringan—dengan alasan keamanan nasional. Pembatasan ini diharapkan dapat menahan laju perkembangan teknologi China di sektor strategis seperti 5G dan AI.
3. Diversifikasi Rantai Pasok
AS mendorong perusahaan-perusahaan domestik untuk memindahkan produksi dari China ke negara lain seperti Vietnam, India, atau kembali ke Amerika sendiri (reshoring). Ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada China dan memperkuat ketahanan rantai pasok nasional.
4. Penguatan Aliansi Ekonomi
AS berusaha memperkuat kolaborasi dengan sekutu ekonomi seperti Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan untuk menekan kebijakan perdagangan China. Strategi ini bertujuan mengisolasi China secara regulatif dan teknologi di pasar global.
Strategi dan Kebijakan China
1. Penetapan Tarif Balasan
Sebagai respons terhadap tarif AS, China juga menetapkan tarif terhadap berbagai produk Amerika, termasuk kedelai, kendaraan, dan kendaraan pertanian lainnya. Langkah ini menyasar sektor-sektor yang berpengaruh secara politik terhadap pemerintahan AS.
2. Diversifikasi Pasar Ekspor dan Impor
China memperluas perdagangan dengan negara-negara lain seperti Rusia, negara-negara ASEAN, dan Afrika untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika. Kebijakan ini memperkuat posisi China sebagai pemain utama dalam perdagangan global non-Barat.
3. Investasi Besar di Teknologi Domestik
Merespons pembatasan AS, China mempercepat program “Made in China 2025” dengan mendorong kemandirian di bidang teknologi tinggi seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, robotika, dan kendaraan listrik. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada teknologi Amerika.
4. Mengandalkan Pengaruh Geopolitik melalui Inisiatif Belt and Road
China memperkuat hubungan ekonomi melalui proyek infrastruktur global untuk memperluas pengaruhnya. Strategi ini membuat banyak negara tetap bergantung pada investasi dan perdagangan China, sekaligus memperluas akses pasar bagi perusahaan-perusahaannya.
5. Menjaga Stabilitas Ekonomi Domestik
China memberikan stimulus fiskal, mengatur kebijakan moneter, dan mendukung perusahaan-perusahaan yang terdampak perang dagang. Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil meski menghadapi tekanan eksternal.
Dampaknya Terhadap Ekonomi Global
Perang dagang antara Amerika Serikat dan China tidak hanya memengaruhi kedua negara, tetapi juga mengguncang stabilitas perdagangan dan ekonomi di seluruh dunia. Karena AS dan China merupakan ekonomi terbesar sekaligus mitra dagang utama bagi banyak negara, setiap kebijakan tarif atau sanksi yang mereka keluarkan akan menciptakan efek domino ke berbagai sektor.
1. Gangguan pada Rantai Pasok Internasional
Perang dagang memicu kenaikan biaya produksi global karena tarif membuat bahan baku dan komponen menjadi lebih mahal. Banyak perusahaan multinasional harus memindahkan pabrik, mencari pemasok baru, atau merombak seluruh struktur rantai pasok internasional. Hal ini menyebabkan ketidakpastian bisnis dan peningkatan biaya operasional di berbagai sektor, mulai dari elektronik hingga otomotif.
2. Penurunan Pertumbuhan Ekonomi Dunia
Konflik dagang antara dua ekonomi terbesar dunia menciptakan ketidakpastian yang menekan investasi global. IMF dan berbagai lembaga keuangan internasional sempat memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akibat ketegangan ini. Negara-negara berkembang yang bergantung pada ekspor ke AS dan China juga mengalami perlambatan ekonomi akibat turunnya permintaan.
3. Fluktuasi Harga Komoditas dan Pasar Keuangan
Perang dagang menyebabkan volatilitas di pasar keuangan global. Harga saham, obligasi, hingga komoditas seperti minyak dan logam sering berfluktuasi tajam setiap kali ada perkembangan baru dalam negosiasi perang dagang. Ketidakstabilan ini membuat pelaku pasar berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
4. Pergeseran Arus Perdagangan Global
Tarif tinggi menyebabkan perusahaan dan negara-negara mencari alternatif pasar dan pemasok. Beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Indonesia, dan Thailand justru diuntungkan karena menjadi lokasi relokasi pabrik atau pemasok baru bagi perusahaan yang ingin menghindari tarif tinggi antara AS dan China. Ini mengubah pola perdagangan internasional dalam jangka panjang.
5. Meningkatnya Risiko Proteksionisme Global
Perang dagang memicu tren meningkatnya kebijakan proteksionis di berbagai negara. Melihat langkah AS dan China, negara lain ikut memperketat regulasi perdagangan untuk melindungi industri domestik. Jika tren ini berlanjut, sistem perdagangan global berbasis aturan (WTO) bisa semakin melemah, menciptakan ketidakpastian ekonomi jangka panjang.
6. Dampak pada Konsumen Global
Kenaikan harga barang impor, baik di AS maupun China, juga berdampak pada negara lain. Produk elektronik, pakaian, hingga komponen industri menjadi lebih mahal karena lonjakan tarif dan gangguan pasokan. Konsumen global pada akhirnya harus menanggung beban kenaikan biaya ini.
7. Munculnya Blok Ekonomi Baru
Ketegangan AS–China turut mempercepat pembentukan dan penguatan blok ekonomi baru, seperti kerja sama perdagangan di kawasan Asia-Pasifik (RCEP) serta penguatan hubungan ekonomi AS dengan sekutu Barat. Fragmentasi ini dapat mengubah arah globalisasi dan membuat ekonomi dunia lebih terpecah.
Siapa yang Diuntungkan dari Perang Dagang?
Meskipun perang dagang Amerika–China menimbulkan banyak ketidakpastian dan tekanan ekonomi, beberapa negara dan sektor justru mendapatkan manfaat. Keuntungan ini muncul karena perubahan arus perdagangan, relokasi manufaktur, dan meningkatnya permintaan alternatif akibat tarif yang diterapkan kedua negara.
1. Negara-Negara Asia Tenggara (Termasuk Vietnam dan Indonesia)
Ketegangan dagang membuat banyak perusahaan global memindahkan pabrik dari China ke negara lain untuk menghindari tarif tinggi Amerika. Negara seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia mendapat keuntungan melalui masuknya investasi asing baru, perluasan fasilitas manufaktur, serta peningkatan ekspor. Vietnam, misalnya, mengalami lonjakan ekspor elektronik dan tekstil ke AS sebagai pengganti produk China.
2. Perusahaan di Sektor Teknologi Non-China
Pembatasan AS terhadap perusahaan teknologi China membuka peluang bagi kompetitor dari negara lain. Perusahaan chip dari Taiwan (TSMC), Korea Selatan (Samsung), dan Amerika Serikat mendapat keuntungan karena meningkatnya permintaan semikonduktor non-China. Selain itu, produsen teknologi Eropa dan Jepang mendapatkan akses pasar yang lebih luas saat perusahaan China dibatasi.
3. Produsen Pertanian dari Negara Lain
Ketika China membalas tarif AS dengan membatasi impor kedelai dan produk pertanian Amerika, negara seperti Brasil dan Argentina menjadi pemasok utama untuk memenuhi kebutuhan China. Harga ekspor mereka meningkat, dan volume perdagangan mereka melonjak secara signifikan.
4. Negara-Negara dalam Blok Perdagangan Baru
Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan kerja sama Asia-Pasifik lainnya menjadi lebih relevan ketika perang dagang berlangsung. Negara-negara anggota RCEP mendapatkan akses pasar yang semakin terbuka karena hubungan China dengan AS merenggang, sehingga aktivitas perdagangan intra-Asia meningkat.
5. Perusahaan Logistik dan Konsultansi Bisnis
Ketidakpastian global membuat banyak perusahaan mencari strategi baru untuk memindahkan rantai pasok. Ini meningkatkan permintaan terhadap jasa konsultan bisnis, analis risiko, hingga perusahaan logistik internasional. Mereka mendapatkan keuntungan dari tingginya kebutuhan akan relokasi pabrik, optimalisasi supply chain, dan perencanaan pasar baru.
6. Pemerintah dan Industri Domestik AS
Meskipun banyak sektor Amerika dirugikan, beberapa industri domestik sebenarnya diuntungkan, seperti:
-
Produsen baja dan aluminium yang terlindungi tarif,
-
Perusahaan teknologi AS yang mendapatkan subsidi atau perlindungan nasional, dan
-
Industri manufaktur yang dipromosikan melalui reshoring.
AS juga mendapatkan leverage politik lebih besar untuk menekan China dalam isu teknologi dan keamanan nasional.
7. Industri Domestik China yang Mendapat Dukungan Pemerintah
China merespons pembatasan AS dengan mempercepat pembangunan teknologi lokal. Perusahaan semikonduktor, robotik, kendaraan listrik, dan AI mendapatkan subsidi besar dan prioritas riset. Dalam jangka panjang, beberapa sektor strategis China justru semakin kuat berkat dorongan untuk mandiri secara teknologi.
Kerugian yang Dialami Kedua Negara
Perang dagang Amerika Serikat dan China tidak hanya memicu ketegangan global, tetapi juga membawa kerugian bagi kedua negara. Tarif yang saling dikenakan, pembatasan teknologi, serta gangguan rantai pasok membuat ekonomi AS dan China sama-sama terdampak. Untuk memahami dampaknya secara menyeluruh, berikut penjelasan mengenai kerugian yang dialami kedua pihak.
Kerugian Ekonomi Amerika Serikat
a. Kenaikan Harga Barang Konsumen
Tarif terhadap produk impor China membuat harga barang di pasar AS meningkat—mulai dari elektronik, pakaian, hingga perabot rumah tangga. Beban tarif pada akhirnya ditanggung oleh konsumen dan pelaku usaha, bukan oleh China semata.
b. Tekanan pada Sektor Pertanian
China membalas dengan menghentikan atau menurunkan pembelian kedelai, jagung, dan produk agrikultur dari AS. Petani AS mengalami kerugian besar dan membutuhkan paket bantuan miliaran dolar dari pemerintah untuk bertahan.
c. Gangguan Rantai Pasok Industri
Banyak perusahaan Amerika yang sangat bergantung pada komponen dan bahan baku dari China. Ketika tarif naik, biaya produksi melonjak dan beberapa perusahaan harus merelokasi pabrik atau menaikkan harga produk. Hal ini menekan daya saing manufaktur AS.
d. Penurunan Investasi dan Ketidakpastian Bisnis
Ketegangan jangka panjang menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku industri. Banyak perusahaan menunda investasi besar karena tidak mengetahui arah hubungan AS–China, sehingga pertumbuhan ekonomi domestik ikut terhambat.
Kerugian Ekonomi China
a. Penurunan Ekspor ke Amerika Serikat
AS adalah salah satu pasar ekspor terbesar China. Dengan adanya tarif tinggi, banyak produk China menjadi lebih mahal dan kurang kompetitif di pasar AS, menyebabkan penurunan penjualan dan pendapatan perusahaan China.
b. Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi
Perang dagang memicu tekanan besar terhadap sektor industri dan manufaktur China. Pertumbuhan ekonomi China sempat melambat ke level terendah dalam beberapa dekade akibat turunnya permintaan global dan investasi asing.
c. Percepatan Relokasi Pabrik ke Negara Lain
Seiring kenaikan tarif, perusahaan global mulai memindahkan produksi dari China ke negara-negara seperti Vietnam, India, dan Meksiko. Ini menggerus dominasi China sebagai pusat manufaktur dunia dan mengurangi perolehan devisa dari sektor ekspor.
d. Pembatasan Akses Teknologi Tinggi
Pembatasan yang diberlakukan AS terhadap teknologi penting—terutama dalam semikonduktor, AI, dan 5G—menghambat perkembangan perusahaan besar China seperti Huawei. Hal ini berdampak pada inovasi, produksi, dan strategi jangka panjang industri teknologi China.
Respons Pasar dan Reaksi Investor Global Terhadap Perang Dagang Amerika dan China
Perang dagang AS–China tidak hanya memengaruhi kedua negara, tetapi juga menciptakan gejolak di pasar global. Investor menjadi lebih berhati-hati, sementara saham, mata uang, dan komoditas mengalami fluktuasi signifikan. Berikut respons pasar dan reaksi investor terhadap konflik ini.
1. Volatilitas Pasar Saham Global Meningkat
Perang dagang memicu fluktuasi tajam di pasar saham dunia. Setiap pengumuman tarif baru, pembatasan teknologi, atau kelanjutan negosiasi sering memicu reaksi cepat dari investor. Indeks besar seperti S&P 500, Dow Jones, dan Shanghai Composite beberapa kali mengalami penurunan signifikan karena kekhawatiran terhadap pelemahan ekonomi global.
2. Investor Beralih ke Aset Aman (Safe Haven Assets)
Dalam kondisi penuh ketidakpastian, investor global cenderung mengalihkan portfolio mereka ke aset yang dianggap aman. Emas, obligasi pemerintah AS, dan mata uang yen Jepang menjadi tujuan utama. Lonjakan permintaan ini menyebabkan harga emas meningkat dan yield obligasi AS turun.
3. Depresiasi dan Fluktuasi Nilai Mata Uang
Ketegangan dagang juga memengaruhi nilai tukar berbagai mata uang. Yuan China beberapa kali melemah terhadap dolar AS akibat tekanan pasar dan penurunan kepercayaan investor. Mata uang negara berkembang ikut bergejolak karena khawatir dampak perang dagang akan menekan perdagangan dan investasi global.
4. Penundaan Investasi dan Proyek Besar
Banyak perusahaan multinasional menunda keputusan investasi karena tidak yakin dengan arah hubungan dagang kedua negara. Hal ini berdampak pada melambatnya pembangunan pabrik baru, ekspansi bisnis, dan proyek infrastruktur yang sebelumnya direncanakan.
5. Pergeseran Portofolio ke Negara-Negara Alternatif
Negara-negara seperti Vietnam, India, dan Meksiko menarik lebih banyak investor karena dianggap mendapatkan keuntungan dari relokasi pabrik dan perubahan arus perdagangan. Investor global mulai meningkatkan minat terhadap saham dan obligasi di negara-negara ini sebagai strategi diversifikasi.
6. Penurunan Kepercayaan Bisnis dan Konsumen
Sentimen pasar yang melemah berdampak pada penurunan kepercayaan bisnis dan konsumen, terutama di sektor teknologi dan manufaktur. Ketidakpastian membuat perusahaan lebih konservatif dalam belanja modal, sementara konsumen cenderung menahan pengeluaran untuk produk elektronik atau impor.
Prediksi Masa Depan Perang Dagang Amerika dan China
Perang dagang AS–China masih menyisakan ketidakpastian. Dampaknya tidak hanya terasa saat ini, tetapi juga memengaruhi arah ekonomi dan perdagangan global di masa depan. Berikut prediksi perkembangan perang dagang ini.
1. Negosiasi yang Terus Berlanjut, Tapi Tidak Stabil
Meskipun ada periode gencatan tarif atau kesepakatan parsial, analis memprediksi ketegangan dagang akan tetap ada dalam jangka panjang. Perbedaan kepentingan ekonomi dan politik membuat solusi permanen sulit dicapai. Negosiasi kemungkinan akan bersifat bertahap, dengan langkah-langkah kecil untuk mengurangi tarif atau membuka akses pasar secara terbatas.
2. Akselerasi Perubahan Rantai Pasok Global
Perusahaan global terus mengalihkan produksi dari China ke negara-negara alternatif untuk mengurangi risiko. Tren ini diperkirakan akan berlanjut, memperkuat posisi negara-negara Asia Tenggara, India, dan Meksiko sebagai pusat manufaktur baru. China kemungkinan akan tetap menjadi pemain utama, tetapi pangsa pasar globalnya bisa berkurang.
3. Kemandirian Teknologi China dan Proteksi AS
China akan semakin fokus pada kemandirian teknologi, mempercepat investasi di sektor semikonduktor, AI, kendaraan listrik, dan teknologi strategis lainnya. Sementara itu, AS kemungkinan tetap mempertahankan kebijakan proteksionis untuk melindungi industri domestik dan mengontrol ekspor teknologi sensitif.
4. Dampak Jangka Panjang pada Perdagangan dan Investasi Global
Perang dagang kemungkinan akan mendorong fragmentasi ekonomi global, di mana negara-negara memilih blok perdagangan tertentu. Investor dan perusahaan multinasional akan terus menyesuaikan strategi mereka dengan kondisi ini, sementara risiko proteksionisme global tetap tinggi.
5. Potensi Kesepakatan Parsial atau Zona Ekonomi Baru
Beberapa ahli memperkirakan akan muncul kesepakatan parsial yang menurunkan ketegangan, seperti penghapusan sebagian tarif atau kerja sama terbatas di sektor tertentu. Di sisi lain, munculnya blok ekonomi alternatif—seperti RCEP atau kemitraan perdagangan trans-Pasifik—akan semakin penting dalam mengimbangi ketegangan AS–China.
6. Ketidakpastian Geopolitik Tetap Tinggi
Selain isu ekonomi, faktor geopolitik seperti persaingan militer, pengaruh global, dan aliansi strategis akan tetap memengaruhi arah hubungan AS–China. Hal ini membuat prediksi jangka panjang sulit, dan perang dagang bisa muncul kembali kapan saja jika kepentingan strategis kedua negara bertabrakan.
Optimalkan Manajemen Logistik di Tengah Ketidakpastian Perang Dagang
Perang dagang Amerika dan China telah mengubah rantai pasok global dan memunculkan tantangan baru bagi bisnis internasional. Dengan Oaktree, software freight forwarding terintegrasi, Anda dapat memantau pengiriman, mengelola dokumen, dan menyesuaikan strategi logistik dengan cepat. Jangan biarkan ketidakpastian pasar mengganggu operasi Anda, maksimalkan efisiensi dan kontrol bisnis Anda bersama Oaktree.
Kesimpulan
Perang dagang antara Amerika Serikat dan China telah menciptakan dinamika ekonomi global yang kompleks. Penyebabnya meliputi ketidakseimbangan perdagangan, praktik dagang yang dipermasalahkan, persaingan teknologi, dan kepentingan geopolitik. Kedua negara mengambil berbagai strategi, mulai dari penerapan tarif, pembatasan teknologi, hingga diversifikasi rantai pasok, yang berdampak signifikan pada ekonomi global, investor, dan konsumen.
Meskipun beberapa pihak, seperti negara-negara Asia Tenggara, produsen teknologi non-China, dan perusahaan logistik, merasakan keuntungan, kedua negara utama tetap menanggung kerugian, termasuk kenaikan biaya produksi, perlambatan pertumbuhan, dan gangguan pasar. Respons pasar dan investor global menunjukkan tingginya ketidakpastian, sementara prediksi masa depan perang dagang menyiratkan bahwa ketegangan kemungkinan akan berlanjut, mendorong perubahan rantai pasok dan kemandirian teknologi.
Dalam konteks ini, penggunaan software seperti Oaktree dapat membantu bisnis menavigasi ketidakpastian, mengelola logistik, dan mengoptimalkan rantai pasok agar tetap efisien di tengah fluktuasi pasar global.






