Deprecated: Using null as an array offset is deprecated, use an empty string instead in /var/www/vhosts/oaktree.id/blog.oaktree.id.oaktree.id/wp-includes/functions.php on line 1194
Oaktree Blog

24 Oktober 2026

Dari Excel ke Software Freight Forwarder: 7 Kesalahan yang Perlu Dihindari

Dari Excel ke Software Freight Forwarder: 7 Kesalahan yang Perlu Dihindari

Jawaban Singkat Transisi dari Excel ke software freight forwarder membutuhkan kesiapan data, proses kerja, dan pengguna. Bersihkan data, tentukan sumber informasi yang menjadi acuan, dan perjelas tanggung jawab setiap divisi. Lakukan pelatihan, pengujian, dan rekonsiliasi sebelum sistem digunakan. Tetapkan aturan transisi serta pendampingan setelah go-live agar pencatatan tetap konsisten. Tim operasional mencatat shipment di Excel, bagian finance memiliki spreadsheet biaya sendiri, sementara dokumen pengiriman tersimpan di folder terpisah. Saat pelanggan menanyakan status pengiriman atau manajemen meminta laporan keuntungan, staf harus mengumpulkan informasi dari beberapa tempat. Situasi tersebut dapat mendorong perusahaan beralih ke software freight forwarder. Namun, transisi membutuhkan persiapan agar data lama, alur kerja, dan tanggung jawab pengguna dapat terhubung dalam sistem baru. Jika perusahaan sedang merencanakan perubahan tersebut, berikut tujuh kesalahan yang perlu dihindari saat beralih dari Excel ke software freight forwarder. Mengapa Transisi dari Excel Perlu Dipersiapkan? Excel dan spreadsheet dapat membantu perusahaan mencatat shipment, menghitung biaya, serta menyusun laporan. Ketika digunakan oleh beberapa divisi, perusahaan perlu menjaga konsistensi format, pembaruan informasi, dan versi file yang menjadi acuan. Sebagai contoh, tim operasional memperbarui biaya pengiriman dalam satu file, tetapi finance masih menggunakan salinan sebelumnya. Perbedaan informasi tersebut perlu diselesaikan sebelum data dipindahkan ke software. CargoWise menjelaskan bahwa penginputan dan pemindahan data secara manual antarsistem membutuhkan waktu serta meningkatkan potensi kesalahan setiap kali informasi diketik ulang. Temuan ini relevan sebagai pertimbangan ketika perusahaan mengevaluasi pencatatan yang tersebar. Karena itu, persiapan migrasi perlu mencakup pemeriksaan data sekaligus penyelarasan proses kerja. Contoh-contoh berikut menggambarkan risiko yang perlu diantisipasi dalam operasional freight forwarder. 1. Memindahkan Seluruh Spreadsheet Tanpa Membersihkan Data Sebelum migrasi, perusahaan perlu memeriksa apakah data dalam spreadsheet sudah lengkap, konsisten, dan masih relevan. File yang selama ini digunakan dapat memuat nama pelanggan ganda, kode vendor berbeda, atau kolom dengan format tanggal yang tidak seragam. Misalnya, pelanggan yang sama tercatat sebagai “PT Sumber Makmur”, “Sumber Makmur”, dan “SM”. Jika semuanya dimasukkan sebagai pelanggan berbeda, riwayat transaksi dan laporan piutang dapat terpisah. Magaya menekankan pentingnya memeriksa akurasi data saat pemindahan atau konversi, dengan melibatkan perwakilan divisi untuk memvalidasi informasi yang mereka gunakan. Perusahaan dapat memulainya dengan membersihkan data duplikat, menyeragamkan format, dan menentukan data yang perlu dipindahkan. Data historis yang tidak dimigrasikan tetap perlu diarsipkan sesuai kebutuhan perusahaan dan ketentuan penyimpanannya. 2. Belum Menentukan Data yang Menjadi Acuan Ketika setiap divisi memiliki spreadsheet sendiri, perusahaan mungkin menemukan perbedaan angka untuk pekerjaan yang sama. Biaya pada catatan operasional, misalnya, belum tentu sama dengan biaya yang sudah diverifikasi oleh finance. Sebelum migrasi, perbedaan tersebut perlu diperiksa. Tentukan dokumen pendukung, status transaksi, dan pihak yang berwenang menyetujui koreksi. Elicit Technology menjelaskan bahwa persiapan implementasi perlu mencakup kebutuhan bisnis serta perpindahan informasi antara operasional dan finance. Hal ini menjadi dasar untuk menyepakati informasi yang digunakan bersama. Dalam praktiknya, perusahaan dapat menugaskan operasional untuk memeriksa data shipment dan finance untuk memvalidasi saldo serta transaksi keuangan. Dengan pembagian tersebut, angka yang masuk ke sistem memiliki dasar yang dapat ditelusuri. 3. Memaksakan Seluruh Format Excel ke Sistem Baru Saat sudah terbiasa dengan spreadsheet, pengguna mungkin berharap seluruh kolom, urutan pekerjaan, dan cara persetujuan lama dibuat ulang dalam software. Padahal, beberapa langkah perlu dievaluasi. Apakah data pelanggan masih harus disalin ke beberapa lembar? Apakah persetujuan biaya harus tetap dilakukan melalui pesan pribadi? Apakah setiap divisi perlu membuat laporan dari awal? Menurut Magaya, memaksa teknologi mengikuti setiap kebiasaan dan proses manual lama dapat menghilangkan kesempatan untuk memperbaiki workflow. Perusahaan sebaiknya meninjau tujuan setiap langkah sebelum meminta penyesuaian. Pertahankan proses yang masih dibutuhkan, sederhanakan pengulangan, dan susun SOP yang sesuai dengan cara kerja sistem baru. 4. Tidak Memperjelas Pembagian Tanggung Jawab Dalam pencatatan berbasis Excel, satu orang mungkin mengelola satu file secara penuh. Ketika perusahaan beralih ke software bersama, beberapa pengguna akan mengakses informasi yang saling berkaitan. Tanpa pembagian tanggung jawab, biaya tambahan dapat terlambat dicatat karena operasional mengira finance yang menginputnya. Sebaliknya, finance menunggu pembaruan dari operasional. Sebelum sistem digunakan, sepakati siapa yang membuat jobfile, memperbarui status shipment, mencatat biaya, menyetujui transaksi, dan menerbitkan invoice. Sesuaikan pula hak akses dengan tugas tersebut. Pembagian ini perlu disertai aturan koreksi. Jika terjadi kesalahan nominal atau perubahan data pelanggan, pengguna harus mengetahui siapa yang dapat memperbaikinya dan dokumen apa yang diperlukan. 5. Mengabaikan Pelatihan Berdasarkan Pekerjaan Harian Kemampuan menggunakan Excel belum tentu membuat pengguna langsung memahami hubungan antarproses dalam software freight forwarder. Staf mungkin mengetahui cara mengisi data, tetapi belum memahami pengaruhnya terhadap dokumen, invoice, atau laporan. Pelatihan sebaiknya menggunakan contoh pekerjaan yang dekat dengan tanggung jawab pengguna. Tim operasional dapat berlatih membuka jobfile dan memperbarui shipment, sedangkan finance mencoba memeriksa biaya, menerbitkan invoice, serta mencatat pembayaran. Magaya menjelaskan bahwa pemahaman pengguna terhadap tujuan perubahan dan dampaknya pada pekerjaan merupakan bagian penting dari adopsi sistem. Sediakan juga panduan singkat untuk kasus berulang, seperti biaya susulan atau koreksi transaksi. Tentukan pengguna internal yang dapat menjadi tempat bertanya ketika tim mengalami kesulitan. 6. Langsung Beralih Tanpa Pengujian dan Rekonsiliasi Keberhasilan mengimpor spreadsheet belum membuktikan bahwa data dan proses sudah siap digunakan. Perusahaan tetap perlu memeriksa hasil migrasi dan menjalankan pengujian sesuai kebutuhan operasional. Elicit Technology menempatkan User Acceptance Testing atau UAT serta persetujuan hasil pengujian sebelum penggunaan produksi. Pengujian dapat mencakup satu alur lengkap, mulai dari quotation, jobfile, pencatatan biaya, invoice, hingga pembayaran. Sertakan pengecualian penting seperti pembatalan shipment, pembayaran sebagian, dan tambahan biaya. Bandingkan pula saldo, jumlah transaksi, serta laporan yang relevan dengan catatan sebelumnya. Setiap selisih perlu ditelusuri dan diselesaikan sebelum hasilnya disetujui oleh penanggung jawab bisnis. 7. Membiarkan Excel dan Software Berjalan Tanpa Aturan Transisi Spreadsheet mungkin masih diperlukan sementara untuk mencocokkan hasil perhitungan atau memeriksa kelengkapan migrasi. Namun, penggunaannya perlu memiliki tujuan dan batas yang jelas. Jika pembaruan transaksi dilakukan di dua tempat tanpa aturan, informasi dapat kembali berbeda. Sebagai contoh, biaya vendor diperbarui di Excel, tetapi pengguna lain membuat invoice berdasarkan angka lama dalam software. Tentukan tanggal mulai pencatatan utama, perlakuan terhadap jobfile yang masih berjalan, serta pihak yang menyetujui penghentian pencatatan lama. Jika ada proses paralel, tetapkan cara rekonsiliasi dan batas waktunya. Setelah go-live, sediakan jalur bantuan dan evaluasi kendala berulang. Magaya menekankan pentingnya pendampingan awal, eskalasi masalah, dan

Dari Excel ke Software Freight Forwarder: 7 Kesalahan yang Perlu Dihindari Read More »

Jangan Salah Pilih! Ini Cara Memilih Software Freight Forwarder yang Tepat

Jangan Salah Pilih! Ini Cara Memilih Software Freight Forwarder yang Tepat

Jawaban Singkat Pilih software freight forwarder berdasarkan kebutuhan layanan dan alur kerja perusahaan. Periksa keterhubungan jobfile, dokumen, biaya, invoice, serta laporan keuangan. Evaluasi integrasi, keamanan data, total biaya, dan dukungan implementasi. Libatkan tim operasional dan finance untuk menguji software melalui demo sebelum berlangganan. Data pengiriman sudah dicatat oleh tim operasional, tetapi bagian keuangan masih harus meminta ulang rincian biaya untuk membuat invoice. Di sisi lain, dokumen tersimpan di beberapa folder sehingga staf membutuhkan waktu untuk menemukan informasi terbaru. Apakah perusahaan Anda menghadapi situasi serupa? Penggunaan software freight forwarder dapat membantu menyatukan proses tersebut. Namun, sebelum memilih, perusahaan perlu memastikan bahwa sistem yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan layanan, anggaran, dan kemampuan tim yang akan menggunakannya. Agar investasi lebih terarah, berikut cara memilih software freight forwarder yang dapat Anda terapkan sebelum memutuskan berlangganan. Mengapa Pemilihan Software Freight Forwarder Perlu Dipertimbangkan dengan Matang? Software freight forwarder akan menjadi bagian dari pekerjaan harian beberapa divisi, mulai dari sales, operasional, customer service, hingga finance. Setiap divisi membutuhkan informasi yang berbeda, tetapi tetap berkaitan dengan pengiriman yang sama. Sebagai contoh, harga yang disepakati dalam quotation perlu menjadi acuan bagi tim operasional dan keuangan. Ketika ada tambahan biaya pengiriman, perubahan tersebut juga perlu tercatat agar penagihan dan perhitungan margin tetap akurat. Jika alur ini tidak terakomodasi, tim mungkin masih harus memindahkan data secara manual atau membuat pencatatan tambahan. Karena itu, evaluasi software perlu mencakup perjalanan pekerjaan secara menyeluruh, termasuk bagaimana informasi berpindah antardivisi. Oleh karena itu, sebagai penyedia software freight forwarder, Oaktree Indonedia menyarankan perusahaan memiliki workflow, menentukan prioritas kebutuhan dan melibatkan tim pengguna sejak awal evaluasi. Cara Memilih Software Freight Forwarder yang Tepat 1. Petakan Kebutuhan dan Masalah Operasional Perusahaan Mulailah dengan mencatat layanan yang dijalankan perusahaan. Apakah bisnis Anda berfokus pada air freight, ocean freight, trucking, atau kombinasi beberapa moda? Apakah perusahaan juga menangani konsolidasi dan pengurusan dokumen kepabeanan? Selanjutnya, identifikasi hambatan yang paling sering terjadi. Misalnya, tim kesulitan melacak perkembangan shipment, tagihan vendor terlambat dicatat, atau manajemen belum dapat melihat keuntungan setiap pekerjaan. Dari pemetaan tersebut, pisahkan kebutuhan menjadi fitur wajib dan fitur tambahan. Perusahaan yang kesulitan mengendalikan margin dapat memprioritaskan pencatatan biaya serta pendapatan per jobfile. Sementara itu, perusahaan dengan banyak cabang perlu mengevaluasi pengaturan akses dan pelaporan antarcabang. 2. Periksa Kesesuaian Fitur dengan Alur Kerja Forwarding Setelah kebutuhan dipetakan, periksa bagaimana fitur software mendukung pekerjaan dari awal sampai selesai. Evaluasi proses pembuatan quotation, booking, pembukaan jobfile, pengelolaan dokumen, hingga pembaruan status pengiriman. Perhatikan pula kebutuhan dokumen sesuai layanan perusahaan, seperti Bill of Lading, Air Waybill, dan packing list. Tanyakan apakah informasi yang sudah dicatat dapat digunakan kembali pada dokumen atau proses berikutnya. Saat demo, minta vendor memperlihatkan satu contoh pekerjaan secara lengkap. Amati bagian yang berjalan otomatis, bagian yang perlu diperiksa pengguna, dan bagian yang masih membutuhkan input ulang. Pengujian ini membantu perusahaan memahami cara kerja sistem dalam situasi yang mendekati pekerjaan sehari-hari. 3. Pastikan Operasional Terhubung dengan Keuangan Pengiriman yang selesai tetap membutuhkan penyelesaian biaya, penagihan, dan pencatatan pembayaran. Oleh karena itu, kemampuan software dalam menghubungkan operasional dengan keuangan perlu diperiksa. Tanyakan bagaimana sistem mencatat harga beli jasa vendor, harga jual kepada pelanggan, biaya tambahan, invoice, serta pembayaran. Periksa juga apakah piutang dan utang dapat ditelusuri berdasarkan pekerjaan yang bersangkutan. Sebagai gambaran praktik industri, studi kasus Metro Shipping yang dipublikasikan WiseTech Global menjelaskan penggunaan modul kepabeanan bersama fungsi akuntansi, termasuk piutang, utang, dan pencatatan kas. Dalam evaluasi, gunakan contoh adanya tambahan biaya setelah shipment berjalan. Periksa apakah biaya tersebut masuk ke jobfile yang tepat, memengaruhi perhitungan margin, dan dapat ditagihkan sesuai kesepakatan dengan pelanggan. 4. Evaluasi Integrasi dengan Sistem yang Digunakan Perusahaan mungkin sudah menggunakan software akuntansi, ERP, atau portal pelanggan. Sebelum memilih sistem baru, tentukan informasi apa yang perlu dipertukarkan dengan aplikasi tersebut. Tanyakan kepada vendor apakah integrasi dilakukan secara otomatis melalui API atau menggunakan ekspor-impor file. Konfirmasi pula arah pertukaran data, frekuensi pembaruan, biaya tambahan, dan penanggung jawab ketika terjadi kegagalan. Untuk dokumen elektronik, dukungan integrasi perlu diperiksa secara spesifik sesuai kebutuhan perusahaan. Oaktree mendukung integrasi dengan CEISA 4.0 untuk proses kepabeanan serta Mekari Sign untuk penandatanganan dokumen secara elektronik. Dengan demikian, mengintegrasikan Oaktree dengan kedua layanan tersebut dapat membantu perusahaan menyederhanakan pengurusan dokumen kepabeanan dan proses penandatanganan, sekaligus mengurangi kebutuhan mencetak serta memindai dokumen. 5. Periksa Keamanan, Hak Akses, dan Pencadangan Data Software freight forwarder dapat menyimpan informasi pelanggan, tarif vendor, dokumen pengiriman, dan transaksi keuangan. Perusahaan perlu mengetahui bagaimana informasi tersebut dilindungi. Periksa apakah hak akses dapat dibedakan berdasarkan jabatan dan tanggung jawab. Sebagai contoh, staf operasional mungkin memerlukan akses untuk memperbarui shipment, sedangkan persetujuan pembayaran hanya diberikan kepada pihak tertentu. Tanyakan pula ketersediaan riwayat aktivitas, autentikasi multifaktor, jadwal backup, dan prosedur pemulihan ketika terjadi gangguan. Oaktree sebagai penyedia jasa software freight forwarder memiliki fitur untuk membagi akun kedalam kebeberapa tingkat. Jadi nantinya tidak semua orang dapat memiliki hak akses untuk melihat data yang ada di dashboard. 6. Hitung Total Biaya Penggunaan Software Harga langganan merupakan salah satu komponen pengeluaran. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan biaya implementasi, migrasi data, pelatihan, integrasi, dan penyesuaian sistem. Panduan Magaya menjelaskan bahwa biaya software dapat dipengaruhi oleh jumlah pengguna, modul, model deployment, volume, implementasi, dan dukungan. Karena itu, evaluasi sebaiknya mencakup total biaya penggunaan selama beberapa tahun. Mintalah rincian penawaran secara tertulis. Pastikan perusahaan memahami fitur yang termasuk dalam paket, batas penggunaan, layanan bantuan, serta ketentuan kenaikan biaya. Pertimbangkan juga skenario pertumbuhan. Berapa biaya ketika perusahaan menambah pengguna atau membuka cabang? Apakah kebutuhan modul baru akan memerlukan implementasi tambahan? Jawaban tersebut membantu menyusun anggaran yang lebih realistis. 7. Uji Kemudahan Penggunaan Melalui Demo Demo akan lebih bermanfaat apabila melibatkan staf yang nantinya menggunakan software. Ajak perwakilan tim operasional dan finance untuk mencoba tugas sesuai tanggung jawab mereka. Gunakan data contoh yang menyerupai pekerjaan perusahaan, tanpa menyertakan informasi sensitif. Misalnya, minta tim membuat jobfile, memasukkan biaya vendor, mencari dokumen pendukung, dan menerbitkan invoice. Selama pengujian, perhatikan apakah pengguna dapat menemukan informasi dengan mudah. Catat langkah yang membingungkan, proses yang terlalu panjang, serta pekerjaan yang masih harus dilakukan di luar sistem. Hasil pengujian dapat menjadi bahan diskusi dengan vendor sekaligus dasar untuk menentukan

Jangan Salah Pilih! Ini Cara Memilih Software Freight Forwarder yang Tepat Read More »

Scroll to Top