Deprecated: Using null as an array offset is deprecated, use an empty string instead in /var/www/vhosts/oaktree.id/blog.oaktree.id.oaktree.id/wp-includes/functions.php on line 1194
Oaktree Blog

13 Juli 2026

B50 Dan Potensi Hemat Devisa Triliunan Di Sektor Logistik

B50 dan Potensi Hemat Devisa Triliunan di Sektor Logistik

Blog.oaktree.id – Implementasi program B50, penggunaan bahan bakar nabati dengan campuran 50% biodiesel, menjadi topik hangat yang menjanjikan penghematan devisa negara hingga lebih dari Rp 170 triliun. Para pemimpin di sektor logistik dan transportasi nasional melihat potensi luar biasa ini, namun menekankan pentingnya persiapan matang agar target ambisius tersebut dapat tercapai. Ilustrasi Logistik oleh Quang Nguyen Vinh via Pexels Pengembangan B50 bukan hanya tentang efisiensi energi, tetapi juga strategi vital untuk kemandirian energi dan stabilitas ekonomi Indonesia. Bagi pelaku usaha logistik, inisiatif ini membawa implikasi signifikan terhadap operasional dan strategi bisnis ke depan. Potensi B50 Menghemat Devisa Nasional Program B50 digadang-gadang mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil. Dengan beralih ke sumber energi terbarukan, devisa yang sebelumnya digunakan untuk impor dapat dialokasikan untuk sektor lain yang lebih produktif. Penghematan devisa triliunan rupiah ini akan memperkuat fundamental ekonomi negara. Dampaknya terasa luas, dari stabilitas nilai tukar hingga ketersediaan modal bagi investasi, yang semuanya pada akhirnya mendukung pertumbuhan sektor logistik. Syarat Keberhasilan Implementasi B50 Menurut para bos logistik, ada beberapa syarat krusial agar B50 dapat sukses diimplementasikan dan mencapai target penghematan devisa. Pertama adalah kesiapan infrastruktur distribusi dan penyimpanan di seluruh wilayah Indonesia. Jaringan pasokan yang andal sangat esensial. Kedua, standar kualitas B50 harus konsisten dan terjamin. Hal ini penting untuk menjaga performa armada logistik dan mencegah kerusakan mesin yang bisa menimbulkan kerugian operasional. Kualitas yang tidak stabil akan menghambat adopsi massal. Ketiga, aspek harga dan ketersediaan B50 harus kompetitif serta stabil dibandingkan bahan bakar konvensional. Biaya bahan bakar merupakan komponen terbesar dalam operasional logistik, sehingga kepastian harga menjadi faktor penentu utama bagi perusahaan. Implikasi bagi Pelaku Usaha Logistik Perusahaan logistik perlu mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan penggunaan B50. Ini mencakup penyesuaian armada, jadwal perawatan, dan strategi pengadaan bahan bakar. Pembaruan dan perawatan berkala akan memastikan transisi berjalan mulus. Untuk mengelola kompleksitas ini, penggunaan software freight forwarding yang canggih menjadi krusial. Sistem seperti ini membantu melacak konsumsi bahan bakar, mengoptimalkan rute, serta memastikan kepatuhan regulasi dengan lebih efisien. Peran Oaktree.id dalam Adaptasi B50 Oaktree.id hadir sebagai mitra strategis bagi pelaku usaha logistik dalam menghadapi perubahan seperti implementasi B50. Software ERP dan manajemen kami dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan sektor ini, memungkinkan pengelolaan operasional yang lebih adaptif dan efisien. Dengan Oaktree.id, perusahaan dapat memantau biaya bahan bakar, menganalisis performa armada, dan membuat keputusan berbasis data untuk mengoptimalkan operasional. Ini adalah kunci untuk tetap kompetitif di tengah dinamika pasar dan kebijakan baru. Ilustrasi Operasional oleh Wolfgang Weiser via Pexels Program B50 menawarkan prospek cerah bagi ekonomi nasional dan sektor logistik. Dengan perencanaan yang matang, dukungan infrastruktur, jaminan kualitas, dan pemanfaatan teknologi yang tepat, pelaku usaha logistik dapat berkontribusi maksimal pada penghematan devisa sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

B50 dan Potensi Hemat Devisa Triliunan di Sektor Logistik Read More »

Kesalahan Memilih Freight Forwarder yang Bisa Merugikan Bisnis Anda

Kesalahan Memilih Freight Forwarder yang Bisa Merugikan Bisnis Anda

Masalah pengiriman tidak selalu bermula ketika barang sudah berada di perjalanan. Dalam banyak kasus, masalah justru muncul sejak perusahaan menentukan partner freight forwarder. Kesalahan ini tidak hanya memengaruhi kegiatan logistik. Tetapi, produksi dapat tertunda, stok tidak tersedia tepat waktu, biaya operasional meningkat, dan pelanggan tidak mendapatkan kepastian pengiriman.  Agar risiko tersebut tidak terjadi, berikut beberapa kesalahan yang perlu dihindari saat memilih freight forwarder. 1. Terlalu Cepat Menyetujui Penawaran Penawaran yang terlihat menarik sering membuat perusahaan ingin segera mengambil keputusan. Padahal, tarif yang diberikan perlu diperiksa bersama cakupan layanan, rute, estimasi waktu, biaya tambahan, dan tanggung jawab masing-masing pihak. Keputusan yang terlalu cepat dapat membuat perusahaan melewatkan ketentuan penting dalam quotation. Sebelum menyetujui penawaran, pastikan seluruh komponen layanan dan biaya telah dijelaskan secara tertulis. 2. Menganggap Semua Freight Forwarder Memiliki Kemampuan yang Sama Setiap freight forwarder dapat memiliki fokus layanan, jaringan, dan pengalaman yang berbeda. Ada perusahaan yang lebih berpengalaman menangani pengiriman laut (Ocean Freight), rute tertentu, atau jenis barang tertentu. Ada pula yang lebih kuat dalam customs clearance, pergudangan, atau pengiriman door-to-door. Menganggap seluruh penyedia layanan memiliki kemampuan yang sama dapat menyebabkan ketidaksesuaian antara kebutuhan bisnis dan layanan yang diterima. Karena itu, perusahaan perlu memilih partner berdasarkan kebutuhan pengiriman, bukan hanya berdasarkan nama layanan yang ditawarkan. 3. Tidak Menguji Kredibilitas Sebelum Bekerja Sama Kesalahan lain yang sering terjadi adalah langsung mempercayai penawaran tanpa memeriksa latar belakang perusahaan. Freight forwarder akan mengelola barang, dokumen, biaya, serta komunikasi dengan berbagai pihak. Kredibilitasnya perlu dipastikan sejak awal. Periksa legalitas usaha, alamat kantor, kanal komunikasi, pengalaman, rekam jejak, dan referensi pelanggan apabila tersedia. Pemeriksaan sederhana dapat membantu perusahaan menghindari partner yang tidak memiliki tanggung jawab dan prosedur kerja yang jelas. 4. Tidak Menetapkan Ekspektasi Layanan Sejak Awal Kerja sama dapat menimbulkan masalah ketika perusahaan dan freight forwarder memiliki pemahaman layanan yang berbeda. Misalnya, perusahaan menganggap status pengiriman akan diperbarui setiap hari, sedangkan forwarder hanya memberikan informasi ketika diminta. Perbedaan ekspektasi seperti ini dapat menimbulkan ketidakpuasan. Sebelum pengiriman dilakukan, sepakati beberapa hal seperti: frekuensi pembaruan status; PIC yang dapat dihubungi; estimasi waktu pengiriman; dokumen yang harus disiapkan; format laporan; serta prosedur ketika terjadi kendala. Ekspektasi yang jelas membantu mengurangi kesalahpahaman selama proses pengiriman. 5. Tidak Memeriksa Biaya di Luar Tarif Utama Tarif pengiriman bukan satu-satunya biaya yang mungkin muncul. Perusahaan juga perlu memperhatikan biaya handling, trucking, pergudangan, customs clearance, administrasi, demurrage, detention, dan biaya lainnya. Apabila komponen tersebut tidak diperiksa sejak awal, total biaya pengiriman dapat jauh lebih besar dari anggaran. Karena itu, mintalah penjelasan mengenai biaya yang sudah termasuk dan belum termasuk dalam quotation. 6. Mengabaikan Kualitas Pengelolaan Dokumen Dalam kegiatan ekspor dan impor, kesalahan dokumen dapat memperlambat seluruh proses pengiriman. Informasi yang tidak sesuai pada commercial invoice, packing list, bill of lading, airway bill, atau dokumen kepabeanan dapat menyebabkan koreksi, penundaan, bahkan biaya tambahan. Perusahaan perlu memastikan bahwa freight forwarder memiliki prosedur pemeriksaan dokumen sebelum pengiriman dilakukan. Partner yang baik tidak hanya menerima dokumen, tetapi juga membantu mengidentifikasi data yang belum lengkap atau tidak sesuai. 7. Mengabaikan Tanda Komunikasi yang Buruk Kualitas komunikasi biasanya sudah dapat terlihat sejak proses penawaran. Respons yang lambat, jawaban yang tidak jelas, perubahan informasi, atau sulitnya menghubungi PIC dapat menjadi tanda adanya masalah dalam koordinasi. Apabila komunikasi sudah kurang baik sebelum kerja sama dimulai, risikonya dapat semakin besar ketika terjadi kendala dalam pengiriman. Karena itu, nilai bagaimana calon partner memberikan informasi, menjawab pertanyaan, dan menawarkan solusi sejak awal. 8. Tidak Membahas Skenario Ketika Pengiriman Bermasalah Sebagian perusahaan hanya menanyakan proses pengiriman dalam kondisi normal. Padahal, perubahan jadwal, keterlambatan, kerusakan, kehilangan, atau kendala kepabeanan dapat terjadi kapan saja. Sebelum bekerja sama, tanyakan prosedur penanganan risiko, proses klaim, dukungan asuransi, dan jalur eskalasi apabila terjadi masalah. Partner yang profesional seharusnya mampu menjelaskan langkah penyelesaian, bukan hanya menjanjikan bahwa seluruh pengiriman akan berjalan lancar. 9. Tidak Memastikan Transparansi Status Pengiriman Ketidakjelasan status barang dapat menghambat keputusan bisnis. Perusahaan perlu mengetahui kapan barang diberangkatkan, posisi shipment, status dokumen, estimasi kedatangan, dan kendala yang sedang terjadi. Apabila seluruh informasi hanya bergantung pada pembaruan manual, pelanggan dapat kesulitan mendapatkan informasi secara konsisten. Karena itu, pastikan calon partner memiliki metode tracking dan pelaporan yang jelas. 10. Mengabaikan Kesiapan Digital Freight Forwarder Operasional freight forwarding melibatkan banyak data, mulai dari quotation, job order, dokumen, biaya, invoice, hingga laporan. Jika seluruh proses masih dikelola secara manual dan tersebar di banyak file, risiko kesalahan input, kehilangan dokumen, dan keterlambatan informasi akan semakin besar. Karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan freight forwarder yang telah terintegrasi dengan sistem digital seperti Oaktree. Oaktree hadir sebagai  software yang dikhususkan untuk membantu perusahaan freight forwarder mengelola job order, quotation, dokumen, biaya, invoice, dan laporan dalam satu sistem. Dengan memilih freight forwarder yang telah terintegrasi dengan sistem digital seperti Oaktree, perusahaan dapat memperoleh layanan yang lebih terstruktur, transparan, dan mudah dipantau. Kesimpulan Kesalahan memilih freight forwarder sering kali terjadi bukan karena perusahaan tidak memiliki pilihan, tetapi karena proses evaluasi dilakukan terlalu cepat. Dengan evaluasi yang lebih menyeluruh, perusahaan dapat mengurangi risiko gangguan pengiriman dan memilih partner yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan bisnis.  

Kesalahan Memilih Freight Forwarder yang Bisa Merugikan Bisnis Anda Read More »

Scroll to Top