Oaktree.id – Mengelola persediaan adalah kunci utama bagi operasional stok, logistik, dan perencanaan suplai. Di tengah ketidakpastian pasar yang diprediksi akan semakin meningkat di tahun 2025, strategi just in case inventory kembali menjadi sorotan. Pendekatan ini sangat relevan untuk berbagai skala usaha, karena secara langsung memengaruhi kesiapan produk saat permintaan melonjak secara tiba-tiba.
Banyak bisnis terjebak dalam dilema klasik: menjaga ketersediaan produk demi memuaskan pelanggan, atau menghindari penumpukan stok yang justru membebani biaya penyimpanan. Tanpa strategi yang tepat, kedua pilihan ini bisa sama-sama merugikan.
Strategi just in case inventory, pada dasarnya, melibatkan penambahan jumlah stok yang disimpan melebihi perkiraan permintaan normal. Tujuannya adalah untuk menciptakan ‘bantalan’ pengaman terhadap fluktuasi yang tidak terduga. Ini bisa mencakup kenaikan permintaan mendadak, keterlambatan pengiriman dari pemasok, atau masalah tak terduga lainnya dalam rantai pasok.
Menerapkan just in case inventory memerlukan pertimbangan matang. Penting untuk menyeimbangkan antara biaya penyimpanan stok ekstra dengan potensi kerugian akibat kehabisan barang (stockout). Analisis data historis, prediksi pasar, serta pemahaman mendalam tentang volatilitas rantai pasok menjadi krusial. Di sinilah peran sistem manajemen logistik yang andal menjadi sangat penting. Oaktree, sebagai platform freight forwarding software terdepan, dapat membantu Anda memonitor pergerakan stok, mengoptimalkan peramalan permintaan, dan memberikan visibilitas menyeluruh atas rantai pasok Anda. Dengan data yang akurat, keputusan mengenai tingkat stok pengaman dapat diambil dengan lebih strategis.
Di tahun 2025, di mana ketidakpastian sepertinya akan menjadi norma baru, memiliki strategi stok yang adaptif seperti just in case inventory, yang didukung oleh teknologi logistik modern dari Oaktree, adalah investasi cerdas untuk menjaga kelangsungan bisnis dan kepuasan pelanggan.
